Mengenal Lima Cedera yang Sering Dialami Atlet E-Sports

Cedera Atlet E-Sports

Atlet E-Sports bisa mengalami cedera seperti atlet di lapangan

Pemain E-Sport sedang bertanding dalam sebuah kejuaraan

Para Gamers yang ikut lomba juga sering mengalami cedera walaupun hanya di depan komputer

Mandiri88 - Agen Sbobet, Ibcbet Dengan Promo Bonus Terbesar

Berita Olahraga ~ Perkembangan eSports di Indonesia sedang dalam tahap membanggakan dengan diadakannya pertandingan ekshibisi eSports di Asian Games 2018 untuk pertama kalinya.

eSports atau olahraga elektronik memang belum sepopuler cabang olahraga lain di Indonesia, meski begitu perkembangannya cukup pesat. Di ranah global, posisi Indonesia dalam pasar industri gaming menempati urutan ke-16 pada 2017.

Data dari laman eSports internasional, Newzoo.com menyebutkan Indonesia memiliki 43,7 juta pemain game yang menghabiskan 880 juta dollar AS (sekitar Rp 11 miliar) untuk bermain game.

Akan tetapi di balik itu semua, atlet eSports bisa mengalami cedera seperti atlet di lapangan. Sebagian pembaca setia MajalahOnline.net mungkin bertanya, bagaimana atlet eSports yang hanya duduk dan bermain bisa mengalami cedera?

Walaupun aktivitas mereka tak seberat atlet olahraga fisik, bukan berarti mereka jauh dari yang namanya cedera. Berikut ini MajalahOnline.net coba membahas lima cedera yang kerap menyerang atlet eSports. 


1. Carpal Tunnel Syndrome


Carpal Tunnel Syndrome (CTS) adalah rasa sakit, kesemutan, dan masalah lain pada tangan


Carpal Tunnel Syndrome (CTS) adalah rasa sakit, kesemutan, dan masalah lain pada tangan akibat tekanan pada saraf median pergelangan tangan. Penyakit ini merupakan penyakit yang paling ditakuti oleh para atlet eSports.

Sindrom ini biasanya memiliki gejala awal seperti tangan yang mudah bergetar dan merasakan ujung jari yang terasa terbakar.

Atlet eSports yang mengalami CTS adalah Ladislav “GuardiaN” Kovacs dari tim CS:GO Na’Vi dan Olof “olofmeister” Kajbjer dari tim CS:GO Fnatic.

Kabarnya, cedera ini membuat mereka mengalami penurunan peforma alam turnamen The Major 2016 lalu yang membuat mereka gagal mengikuti turnamen selanjutnya.

Menurut seorang ahli bedah ortopedi bernama Dr. Levi Harrison, risiko Sindrom Carpal Tunnel sebenarnya bisa dicegah. Hal tersebut bisa dilakukan dengan melakukan perenggangan tangan ketika bermain game yang durasinya cukup lama.



2. Spontaneous Pneumothorax atau Collapsed Lung

Spontaneous Pneumothorax atau paru-paru bocor adalah penyakit yang bisa menyerang siapa saja secara tiba-tiba

Spontaneous Pneumothorax atau paru-paru bocor adalah penyakit yang bisa menyerang siapa saja secara tiba-tiba. Ketika terkena penyakit ini, seorang atlet eSports akan mengalami sakit yang tajam di daerah dada atau bahu serta mengalami sesak napas yang ekstrem.

Pada Maret 2017, pemain Overwatch dari tim LuxuryWatch Blue, Song “Janus” Jun-hwa dilarikan ke rumah sakit karena Pneumothorax dan harus absen di pertandingan terakhir timnya di musim kedua turnamen OGN APEX. Beruntung, Janus bisa pulih dan bisa melanjutkan bermain di musim ketiga.



3. Tennis Elbow

Tennis Elbow adalah rasa sakit yang muncul pada siku bagian luar


Tennis Elbow adalah rasa sakit yang muncul pada siku bagian luar. Rasa sakit ini cenderung terjadi pada tempat di mana tendon dari otot-otot lengan bawah melekat ke tulang yang menonjol di bagian luar siku.

Cedera ini umumnya bisa terjadi akibat penggunaan siku secara berlebih yang menyebabkan mengalami penegangan berlebihan sehingga terjadi robekan serta peradangan.

Atlet eSports yang diketahui pernah cedera ini adalah Clinton “Fear” Loomis dari tim Dota 2 Evil Geniuses.

4. Repetitive Strain Injury (RSI)

Repetitive Strain Injury adalah cedera pada persendian akibat ketegangan pada otot saraf


Repetitive Strain Injury adalah cedera pada persendian akibat ketegangan pada otot saraf karena suatu aktivitas fisik tertentu yang dilakukan terus menerus dalam waktu yang lama.

Beberapa gejala RSI kerap dialami seperti pinggang (lower back) yang pegal, bahu dan bagian siku yang pegal atau hingga nyeri, RSI adalah akibat dari postur bermain yang tidak baik, dan juga ergonomis perangkat yang tidak baik, Selain itu istirahat diantara waktu bermain sangat penting untuk mengurangi risiko strain.

Menurut Dr. Levi Harrison, seorang atlet eSports wajib memperhatikan postur tubuh saat bermain. Mereka harus melakukan perenggangan selama 5—10 menit setiap satu jam.



5. Eye Strain atau Mata Lelah

Eye Strain atau mata lelah terjadi ketika mata terlalu dipaksakan untuk memandang hanya ke satu arah dalam waktu yang lama

Eye Strain atau mata lelah terjadi ketika mata terlalu dipaksakan untuk memandang hanya ke satu arah dalam waktu yang lama.

Tak heran hal itu bisa terjadi, karena atlet eSports profesional harus menghabiskan waktu antara 8-15 jam sehari untuk latihan di depan komputer.

Meskipun terlihat sepele, jika terlalu lama dibiarkan, eye strain bisa menyebabkan kerusakan pada saraf optik mata hingga berujung pada kebutaan.

Untuk mencegah hal itu, seorang atlet eSports profesional disarankan untuk melihat objek lain yang berjarak sekitar 20 kaki (6 meter), selama 20 detik setelah melihat layar selama 20 menit.

Daftar disini !!!
 Maxbet268 - Maxbet Indonesia Dengan Berbagai Promo Menarik

Share on Google Plus

About Anastasia

0 comments:

Posting Komentar