Melihat Kerja C-4, Bom yang Digunakan untuk Meledakkan Jasad Altantuya 'Selingkuhan' Najib Razak


AGEN BOLA,Kasus pembunuhan Altantuya Shaariibuu kembali mencuat setelah Presiden Mongolia mendesak Mathatir untuk mengusutnya.

Kasus Altantuya merupakan pembunuhan yang dilakukan oleh para penculik dengan dibunuh serta ditembak dua kali.

Tidak sampai disitu, jasad Altantuya kemudian diledakkan dengan bom C-4, bom militer di Malaysia.

Altantuya Shaariibuu

bom C-4 merupakan bom plastik eksplosif dengan efek ledakan besar.

Bentuknya padat, bisa seperti tongkat kecil atau persegi dan bisa diledakkan dengan menggunakan timer, remote control, kontak kunci, dan sebagainya, diproduksi di Amerika dan Eropa.

Bagi pengamat bom, C-4 ini memiliki kekuatan yang besar untuk menghancurkan daerah sekitarnya.

"Pada tingkat ledakan ini sangat tidak mungkin untuk menghindarinya dengan berlari cepat seperti yang biasa ada di film laga," tulis Science How Stuff Works.

Ledakan ini memiliki dua fase.

Fase yang pertama mengakibatkan kerusakan serta menciptakan daerah bertekanan rendah di sekitar ledakan.

Setelah ledakan, gas yang dikeluarkan juga bisa merusak daerah sekitar.

Walaupun dalam jumlah kecil, bom C-4 ini sudah bisa membunuh beberapa orang.

Satu pon bom ini membunuh beberapa orang, sedangkan bom dengan berat 3 pon atau 1.5 kg berpotensi menghancurkan sebuah truk.

Bom C4 sangat sensitif, digunakan hanya untuk kepentingan militer.

Seperti di Vietnam, tentara menggunakan bom dan granat berbasis C-4 untuk dimasukkan dalam retakan dinding yang berat agar dapat meruntuhkan dinding tersebut.

Saat ini militer Amerika Serikat menjadi produsen utama C-4 dan secara ketat menjaga pasokannya.

Di dunia sendiri C-4 juga masih sering dijumpai sebagai senjata para teroris.

Sementara dari kasus Altantuya, bom C-4 yang digunakan untuk meledakkan jasadnya terbukti telah membuat tubuhnya hancur.

Saat oleh tempat kejadian perkara, polisi hanya menemukan sisa tulang berserakan akibat ledakan tersebut.


Share on Google Plus

About Anastasia

0 comments:

Posting Komentar