Data Pengguna Facebook di RI Turut Bocor, Disalahgunakan untuk Apa?

Data Pengguna Facebook Indonesia Bocor

Krisis Facebook menghebohkan kembali media sosial

Data Pengguna Facebook di RI Turut Bocor, Disalahgunakan untuk Apa?

Indonesia ada di posisi ketiga dengan sekitar 1 juta akun pengguna facebook yang bocor

Mandiri88 - Agen Sbobet, Ibcbet Dengan Promo Bonus Terbesar

Berita Terkini ~ Facebook mengungkapkan data terbaru yang mengejutkan. Penyalahgunaan data pengguna yang mulanya diperkirakan sekitar 50 juta, saat ini informasi yang disebutkan Facebook ada sekitar 87 juta data pengguna menjadi korban.

Yang menghebohkan, Indonesia juga kena imbasnya dan masuk tiga besar negara yang berdampak pada penyalahgunaan data pengguna Facebook.

Dari 87 juta pengguna yang bocor, 70,6 juta akun yang disalahgunakan berasal dari Amerika Serikat (AS), Filipina berada di posisi kedua dengan 1,2 juta akun, dan Indonesia ada di posisi ketiga dengan sekitar 1 juta akun.

Tepatnya, dari total jumlah akun yang disalahgunakan, 1,3 persen di antaranya adalah milik pengguna Indonesia. Pertanyaannya, data pengguna Facebook di Indonesia disalahgunakan untuk apa?

Pengamat Media Sosial Abang Edwin Syarif Agustin mengatakan, data pengguna yang bocor bisa dimanfaatkan untuk apapun, tergantung pihak mana yang menggunakannya.

"Data pengguna yang bocor itu mungkin dianalisis segmentasi psikografisnya orang Indonesia. Jadi tergantung pihak yang mengambil, mau menggunakannya untuk apa," ujar pria yang karib disapa Edwin, Kamis (5/4/2018) sore di Jakarta.

Sebagai contoh, Edwin melanjutkan, bila perusahaan konsultan politik dan analisis data Cambrige analytica yang menggunakannya, data-data tersebut bisa dimanfaatkan untuk mengubah mindset orang agar mereka bisa memilih (calon presiden, misalnya) sesuai keinginan si penganalisis data.

"Kalau kasusnya terjadi saat pemilihan umum (pemilu) berlangsung, saya lihat demokrasinya yang dipermainkan. Itu sama saja dengan demokrasi AS yang dipermainkan," ucapnya.

Pria berkacamata ini berujar, selain Facebook, kemungkinan perusahaan digital lain melakukan pola serupa. Misalnya saat seseorang memutuskan untuk membuka akun media sosial, mereka diminta untuk memasukkan data dan kemudian saat menggunakan layanan muncul iklan-iklan yang sesuai dengan ketertarikan pengguna.

"Kenapa iklannya bisa sesuai? Itu artinya mereka (penyedia layanan) mempelajari kebiasaan pengguna dan kita tidak sadar dengan itu," imbuh Erwin memaparkan.

Artinya, Erwin menegaskan, bukan hanya Facebook yang memiliki data dan bisa menganalisis data pengguna untuk berbagai tujuan. "Ini praktik yang umum di industri digital advertising," tandasnya.

Haruskah Pengguna Indonesia Hapus Facebook?

Lantas dengan adanya kejadian ini, haruskah pengguna Indonesia berhenti memakai Facebook? Edwin mengatakan pengguna tidak perlu menutup atau menghapus akun Facebook mereka.

"Tidak perlu menutup akun, yang penting kita tahu celahnya di mana. Facebook saat ini juga berada di bawah tekanan, sehingga tidak mungkin dalam waktu dekat Facebook akan kembali melakukan kesalahan yang sama," tukasnya.

Lebih lanjut, Edwin juga menyebut pengguna sebaiknya tidak hanya mengandalkan satu platform media sosial.

"Ada baiknya kita tidak mengandalkan satu platform, misalnya hanya pakai Facebook. Seandainya Facebook bangkrut kita tidak akan bisa berbuat apapun dan sudah lost contact," tuturnya.

Dia juga menjelaskan pentingnya membaca dan mengetahui syarat dan ketentuan penggunaan layanan media sosial sebelum memutuskan untuk menggunakannya.

"Sebenarnya kalau kita berhati-hati, kita bisa terhindar dari penyebaran data di media sosial, tetapi kebanyakan pengguna tidak membaca term and condition," imbuhnya.

Selain itu, kata Edwin, di platform media sosial khususnya Facebook terdapat pengaturan privasi.

"Facebook punya pengaturan privasi, mereka memberikan menu pengaturan privasi yang bisa diatur," kata Edwin.

Untuk itu dia mengajak pengguna platform media sosial mempelajari lebih jauh tentang pengaturan privasi yang disajikan media sosial.

"Masalahnya, Facebook, Google dan lain-lain itu gratis. Jadi kita secara enggak langsung dengan sukarela 'membayar' dengan data pribadi kita. Karena itu semua gratis, kita juga tidak memiliki kekuatan hukum untuk menuntut penyedia platform media sosial," pungkasnya.


Pemerintah Harus Tegas


Abang Edwin Syarif Agustin, Pengamat Media Sosial

Edwin pun mendesak pemerintah Indonesia untuk bersikap tegas, sama seperti sikap pemerintah Amerika Serikat terhadap Facebook.

"Seharusnya pemerintah bersikap sama seperti pemerintah Amerika Serikat, menegur kemudian dipanggil ke parlemen suruh menjelaskan semua yang terjadi, mengapa ini tidak diangkat ke permukaan," kata Edwin.

Menurutnya, pemerintah juga harus mengantisipasi kemungkinan penyalahgunaan data pengguna media sosial lainnya.

"Ini baru Facebook, kita tidak tahu apakah perusahaan teknologi lain melakukan hal ini. Saya pikir mungkin saja. Hampir semua perusahaan digital memiliki pola serupa," tuturnya. Edwin pun mendesak pemerintah Indonesia untuk bersikap tegas, sama seperti sikap pemerintah Amerika Serikat terhadap Facebook.

 Indonesia ada di posisi ketiga dengan sekitar 1 juta akun pengguna facebook yang bocor

"Seharusnya pemerintah bersikap sama seperti pemerintah Amerika Serikat, menegur kemudian dipanggil ke parlemen suruh menjelaskan semua yang terjadi, mengapa ini tidak diangkat ke permukaan," kata Edwin.

Menurutnya, pemerintah juga harus mengantisipasi kemungkinan penyalahgunaan data pengguna media sosial lainnya.

"Ini baru Facebook, kita tidak tahu apakah perusahaan teknologi lain melakukan hal ini. Saya pikir mungkin saja. Hampir semua perusahaan digital memiliki pola serupa," tuturnya.

Pola sama yang dimaksud oleh Edwin adalah penyedia layanan mengumpulkan data pengguna sebagai pertukaran atas layanan media sosial gratis yang akan dinikmatinya.

"Misalnya saat seseorang memutuskan untuk membuka akun media sosial, mereka diminta untuk memasukkan data kemudian saat menggunakan layanan, muncul iklan-iklan yang sesuai (dengan ketertarikan pengguna). Kenapa iklannya bisa sesuai, itu artinya mereka (penyedia layanan) mempelajari kita dan pengguna tidak sadar dengan itu," kata Edwin menjelaskan.

Artinya, kata Edwin, bukan hanya Facebook yang memiliki data dan bisa menganalisis data penggunanya untuk berbagai tujuan.

"Ini praktik yang umum di digital advertising," ujarnya.

Untuk itu, Edwin menyarankan Kemkominfo memanggil semua penyedia media sosial, termasuk Facebook dan memastikan bahwa data pengguna Indonesia aman serta tidak disalahgunakan.
Daftar disini !!!
 Maxbet268 - Maxbet Indonesia Dengan Berbagai Promo Menarik
>

Share on Google Plus

About Anastasia

0 comments:

Posting Komentar