Merokok Pilihan Sendiri !

Merokok Pilihan Sendiri, Kok Bisa Tuntut Dua Perusahaan Rokok 1 Triliun Lebih!

 Merokok pilihan sendiri


Ungkapan itu diungkapkan Todung Mulya Lubis, pengacara yang ditunjuk oleh Rohayani, konsumen yang melaporkan dua perusahaan rokok besar nasional yakni Djarum dan Gudang Garam. Selain Todung Mulya Lubis, Rohayani juga menggandeng Azas Nainggolan dari Solidaritas Advokat Publik untuk Pengendalian Tembakau Indonesia guna memuluskan langkahnya.



www.Mandiri88.com



Merokok pilihan sendiri

MajalahOnline.net
- Rohayani (50), seorang mantan perokok melayangkan somasi kepada dua perusahaan rokok PT Gudang Garam Tbk dan PT Djarum. Dia merasa dirugikan telah mengkonsumsi rokok selama 25 tahun dan produk tersebut menyebabkan kecanduan dan kesehatannya menurun.

BeritaUnik - Saya tidak paham hukum sehingga tidak tahu apakah gugatan semacam ini wajar atau tidak. Kalau misalnya ada cacat produksi atau produk itu berbeda dari value yang dia gembar-gemborkan ke publik mungkin saya masih bisa mengamini jika ada konsumen yang mengadu. Tapi ini rokok, di mana kita semua tahu efek negatifnya.

Rokok sudah menjadi semacam adiksi bagi banyak orang. Tak makan bukan masalah asal masih bisa ngebul, beberapa bahkan punya prinsip demikian. Beberapa kawan saya laki-laki jaman kuliah dulu asalkan ada rokok dan kopi saja sanggup begadang mengerjakan tugas semalaman bahkan sekedar nongkrong. Lagi bokek pun dibela-bela untuk membeli rokok eceran atau nempel dengan kawan yang kebetulan baik hati berbagi rokoknya. Ucapan, "sebats dulu ya.." seringkali terdengar semacam penanda waktu usai amkan atau ketika mau beraktivitas. Ada nggak ada iklan rokok sekalipun saya yakin konsumennya pasti banyak. Dan bahkan ketika salah satu produsen rokok kemarin melakukan re-branding produknya dengan menarik sejumlah varian dan menjadikannya satu ternyata itu sukses membuat banyak teman saya yang perokok ribut. Mereka berhenti membahas politik dan sibuk berbagi warung mana yang masih jual varian lama sampai ngomel-ngomel karena katanya menyesuaikan dengan rasa rokok baru itu seperti bersahabat dengan patah hati usai diputusin mendadak.

Nah ketika kemudian kita merasa kecanduan karena keputusan yang kita buat sendiri, apakah wajar jika kemudian kita menggugat? Kecuali kalau perusahaan rokok itu mempromosikan rokoknya sehat dan bervitamin, tapi kenyataannya efek sampingnya besar. Wajarlah kalau digugat?

Saya rasa ini mirip dengan cara orangtua kita dulu mendidik. Beberapa orangtua dulu meski anaknya tak hati-hati kemudian jatuh atau kejedot meja maka yang disalahkan adalah lantainya atau mejanya. Maksudnya untuk menghibur sang anak, tapi tanpa disadari alam bawah sadar anak terbiasa menyalahkan hal lain daripada menimbang apakah mungkin dirinya sendiri berkontribusi besar bagi kesalahan yang dia buat. Coba dia lebih hati-hati, tidak lari-lari, lebih awas, mungkin tidak akan ada ceritanya jatuh atau kejedot. Ya sama, kita yang merokok, dengan sadar membeli, dengan senang hati membakar uang dan tembakau, tapi kemudian pihak lain yang dituding bersalah.

Yang menarik Rohayani menuntut ganti rugi sebesar Rp 178.074.000 sebagai ganti rugi uang yang dihabiskan Rohayani untuk membeli produk rokok ini, dan santunan senilai Rp 500 miliar. Sementara, PT Djarum Tbk dituntut membayar ganti rugi Rp 293.068.000, ditambah santunan senilai Rp 500 miliar. Ganti rugi itu diestimasikan dari nilai rokok yang dikonsumsi Rohayani dalam kurun waktu 1975-2000. Ternyata dalam waktu 25 tahun jika kita bisa menghemat untuk tidak merokok kita bisa menghemat hampir 500 juta! Mungkin akan lebih karena harga rokok sekarang pastilah jauh lebih mahal daripada jaman dulu.

 Merokok pilihan sendiri

Bayangkan uang 500 juta itu bisa dipakai apa kalau tidak dibakar untuk rokokan sambil cangkruk, ngopi, dan goler-goler? Beli rumah, bisa di daerah. Pergi haji? Lengkap sekeluarga. Bayar asuransi? Lunas! Mau jalan-jalan ke luar negeri? Kembaliannya masih banyak. Asal Anda nggak minta jalan-jalan ala Syahrini, uang itu pasti cukup. Dan tentu tidak ada lagi somasi karena merasa kualitas hidupnya turun padahal kualitas hidup kita adalah tanggung jawab kita sendiri untuk mengupayakan. Kenapa harus salahkan pihak lain?


 www.mandiritogel

 www.maxbet268

Share on Google Plus

About Anastasia

0 comments:

Posting Komentar