Ini Alasan Pemilik Arsenal dan Tim-tim Olahraga Tradisional Terjun ke eSports

Suasana meriah di final League of Legends World Championships di National Stadium, Beijing, pada 4 November 2017.

RAGAMSPORT, Banyak tim olahraga tradisional terjun ke eSports sepanjang 2017. Faktor audiens menjadi salah satu pemicu utama.

Hal ini diungkapkan oleh Ari Segal, presiden dan CEO Immortals, suatu organisasi eSports asal Amerika Serikat.

"Tim olahraga tradisional melihat esports sebagai kesempatan sangat efektif untuk mengakses demografis muda, yang secara umum punya penghasilan besar," tutur Segal yang organisasinya juga memiliki tim Los Angeles Valiant di Overwatch League, seperti dikutip MajalahMandiri.com dari Dotesports.com.

Ia melanjutkan banyak pemilik klub tradisional yang melihat anak cucu mereka bermain video game dan mengikuti esports.

"Mereka melihat bahwa demografi esports terang sekali, apalagi ketika olahraga tersebut bertumbuh sementara properti olahraga lain menurun," lanjutnya.

Temuan perusahaan media terkemuka, Mindshare, pada 2016 menunjukkan bahwa 65 persen pemirsa esports Amerika Serikat berada di usia 18-34 tahun.

Selain itu, generasi Millenial AS mengurangi konsumsi televisi (suatu platform yang menjadi andalan olahraga tradisional) dan menonton lebih banyak konten online, khususnya esports.

Wajar apabila rakasasa-raksasa olahraga Amerika bergantian turun ke eSports.

Pada Mei 2017, pemilik franchise NFL terkemuka, New England Patriots, membeli tempat di Overwatch League senilai 20 juta dolar.

Sebagai perbandingan, jumlah setara 271 miliar rupiah tersebut sama dengan anggaran DKI Jakarta untuk bonus atlet peraih medali di Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016.


Langkah tersebut diikuti oleh pemilik Miami Dolphins.

Beberapa bulan kemudian, salah satu pemilik Golden State Warriors, Joe Lacob, membeli tempat di liga League of Legends Amerika Utara.

Selain mereka, Milwaukee Bucks, Cleveland Cavaliers, dan Houston Rockets juga punya bagian besar di konstelasi eSports Amerika Serikat dan Utara.

"Mereka yang berinvestasi dan membangun aset di esports melihat ke jangka waktu tiga, lima, dan 10 tahun. Saya pikir pergerakan ini akan berlanjut karena dinamika ekonomi di balik franchise olahraga," tutur Rob Moore, mantan wakil chairman Paramount Pictures yang kini terlibat di dalam esports.

Tim MVP Black beraksi di event Heroes of the Storm di BlizzCon 2017, pameran yang sekaligus menjadi ajang Piala Dunia Ovewatch 2017 pada 3 November 2017 di Anaheim, California.

Menariknya, Moore mempunyai koneksi dengan tim Premier League, Arsenal.

Hal ini karena ia menukangi organisasi Phoenix1 yang membawahi Los Angeles Gladiators, tim Overwatch League milik Stan dan Josh Kroenke, pemegang saham mayoritas Arsenal.

Ia pun memberi prediksi mengenai tahun 2018 yang ia anggap akan krusial bagi masa depan esports.

"Jika Anda melihat ke belakang dunia esports dalam 5 atau 10 tahun dari sekarang, tahun 2018 mungkin akan menjadi tahun di mana esports benar-benar berevolusi menjadi kompetisi olahraga akbar," ujar Moore lagi.


Share on Google Plus

About Anastasia

0 comments:

Posting Komentar